Gunakan Rumus Ini Agar Menjadi Pendengar Yang Baik!




Bulan Agustus 2018 lalu, saya mengikuti Training of Facilitator yang diadakan oleh Peace Generation Indonesia (instagram: @peacegenid) di Kota Kembang, Bandung bersama teman-teman delegasi Makassar lainnya. Disana saya dan teman-teman dilatih untuk menjadi Facilitator di kota masing-masing untuk program Board Game for Peace 2.0 yang akan dilaksanakan di 12 Kota yaitu Makassar, Padang, Bandung, Surabaya, Solo, Aceh, Samarinda, Palembang, Cirebon, Palu, Bima, dan Ambon.

Selama saya mengikuti training tersebut, saya mendapatkan banyak ilmu baru dan pastinya teman baru. Bersyukurlah bisa menjadi salah satu bagian dari Peace Generation untuk program BGFP 2.0 ini.

Anyway, di Bandung kemarin saya banyak mendapatkan materi salah satunya Menjadi Detektif Empati. Nah di sesi ini apa yang di pelajari?

Pertama, memahami faktor-faktor pendorong dan penarik seseorang bergabung pada kelompok ekstrem.
Kedua, mengidentifikasi gejala dan benih ekstremisme kekerasan di sekitar kita.
Ketiga, menjadi pendengar aktif dan membantu teman yang terpapar ajakan ekstrem.

Oke let me explain it, saya bahas poin ketiga mengenai menjadi pendengar aktif.


Apa itu Active Listening ?

Active Listening (mendengar aktif) adalah teknik komunikasi yang memerlukan pendengar untuk memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi apa yang ia dengar. Secara singkatnya, mendengar aktif memerlukan kepekaan yang lebih kepada lawan bicara.


Apa untungnya kita menjadi pendengar aktif?

Kemampuan untuk mendengarkan secara aktif dapat meningkatkan;
Pertama, Hubungan antar pribadi lebih erat.
Kedua, Mengurangi konflik, jadi tak hanya konflik antar pribadi saja tetapi konflik terhadap diri sendiri
Ketiga, Memperkuat kerjasama, dengan mendengar yang baik kamu akan dihargai oleh lawan bicara. Karena orang tersebut merasa bahwa kamu juga sangat menghargai dirinya.
Keempat, Mendorong pemahaman dan melatih empati kita.

Itulah sedikit gambaran mengenai apa sebenarnya tujuan dan keuntungan menjadi pendengar yang baik. Orang bijak pernah berkata bahwa; alasan Tuhan memberi kita hanya satu mulut dan dua telinga adalah agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Banyak orang mengaku bahwa dirinya adalah pendengar yang baik. Namun, tahukah kamu setidaknya kamu melakukan rumus “DENGAR JANG” dibawah ini untuk bisa dianggap sebagai pendengar yang baik.

Dedikasikan


Dedikasikan disini bagaimana kita mengorbankan diri. (Eh bukan mengorbankan perasaanmu terhadap dia yang suka posesif sama kamu yaaa :D) *apasih.

Mengorbankan disini lebih ke tenaga, pikiran, dan waktu demi lawan bicara kita. Ketika kamu berbicara dengan orang lain, kamu harus tetap menjaga pandangan kamu kepada lawan bicara. Jangan sampai kamu mengalihkan pandangan ke arah yang lain. Tetap fokus pada satu pandangan sebesar 80 persen saja. Sesekali melepas pandangan tidak apa-apa, karena jika melakukan pandangan sebesar 100 persen biasanya akan membuat lawan bicara tidak nyaman. Seram atuh L kek mau makan orang hihihi

Ekspresikan


Disini kamu memberi reaksi yang pas sesuai isi cerita dan lawan bicara. Karena tak semua ekspresi seperti senang selalu kita perlihatkan. Bagaimana jika dia bercerita tentang kegalauan atau kesedihan? Kan aneh ketika kita tertawa atau senyum-senyum. Ekspresi pendengar yang baik akan mengikuti alur pembicaraan senatural mungkin. Seenggaknya jangan banyak senyum-senyumnanti disangka gangguan jiwa hehehe.


Netralkan Posisi

Sebagai pendengar yang baik harus menahan diri untuk tidak memihakkan diri. Jangan judgement salah atau benar. Terkadang sebagai pendengar, beberapa orang secara cepat judge diawal sebelum pembicaraan selesai. Sebaiknya ayo dengarkan dulu sampai habis ya.

Gangguan Dihilangkan

Ketika kita sedang mendengarkan suatu pembicaraan sebaiknya hal yang menganggu dihilangkan atau disingkirkan terlebih dahulu. Poin keempat ini berkaitan dengan pon pertama tadi. Bayangkan jika kamu bercerita terus teman kamu sibuk main game online. Apa yang kamu rasakan? Pastinya kamu merasa tidak diperhatikan. Nah biasanya hal ini menimbulkan konflik seperti hubungan antar pribadi sudah tidak erat atau tidak dipercaya lagi oleh teman sendiri.

Lain kasus ketika ponselmu berdering, ada chat penting misalkan dari orang tua atau teman kerja. Usahakan jangan langsung angkat telponnya, sebaiknya ucapkan kata maaf. “Maaf ya, sebentar saya angkat telpon dulu”. Setelah selesai, jika kamu lupa pembicaraan terakhir katakan “Maaf ya, tadi sampai mana kita?”.

Amati Isi Pembicaraan

Poin ini adalah poin yang utama ketika menjadi pendengar yang baik. Ketika proses bercerita dilakukan, kita sebagai responses sebaiknya fokus amati isi pembicaraannya. Karena hal ini akan berpengaruh terhadap respon yang akan kita berikan kepada si pencerita. Karena ketika kita tidak fokus, apa yang akan kita tanggapi?.

Perlu juga untuk menunjukan bahasa tubuh yang positif, salah satunya dengan pandangan tadi. Hal ini juga akan memberikan kesan positif kepada si pencerita bahwa informasi tersebut benar-benar penting.

Respon

Berikan responmu! Ajukan pertanyaan jika belum paham, jangan berasumsi. Karena field of experience tiap orang pasti berbeda. Akibatnya, pemahaman kita terhadap informasi yang sama biasanya akan berbeda. Respon pun banyak cara bisa kita lakukan, salah satunya dengan bahasa tubuh seperti menganggukan kepala yang menandakan kita paham maksudnya apa.

Seperti diteorikan “dua telinga satu mulut” artinya ketika jadi pencerita kita lebih banyak berbicara dan ketika sebagai pendengar, kita lebih banyak mendengarkan. Ada porsi masing-masing. Berikan respon terbaikmu yang tidak mematahkan isi pembicaraan si pencerita.

JANGan Memotong


Merespon saat cerita dari lawan bicara sudah selesai atau ketika diminta. Sama halnya ketika kamu sedang menonton film yang seru-serunya. Ketika di pause atau stop, apa responmu? Pastinya merasa tidak nyamankan? Lebih tepatnya mengantung (yah seperti dia yang suka ngegantung :”) wkwkwk). Intinya sebagai pendengar yang baik, kita akan mengeluarkan respon tetapi alangkah lebih eloknya biarkan dia menyelesaikan terlebih dahulu pembicaraannya.

Nah teman muda, itulah rumus yang saya pribadi pakai ketika menjadi pendengar yang baik. DENGAR JANG! kamu punya cara lain? boleh tuliskan dikolom komentar yak.

Salam Damai :)




29 Comments

  1. Hello Arez. Setelah baca postinganmu ini. Aku keinget lagi pertama kali yang aku rasain ketika mendapat materi ini. Rasanya nyalahin diri sendiri karena ternyata selama ini aku belum bisa menjadi pendengar yang baik buat teman-teman yang sering cerita ke aku. Intinya merespon cerita seseorang belum tentu memahami isi cerita tersebut. Untuk memahaminya, jadilah pendengar yang baik. Terimakasih sudah diingatkan kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo kak fer. Iya nih dulu tuh saya kek gitu juga tapi setelah ikut trainingnya saya pribadi merasa bersalah selama ini. Hal kecil seperti itu teernyata adalah pintu masuknya konflik

      Hapus
  2. Sangat bermanfaat terutama untuk kami para generasi milenial yang harus tau dan wajib lakukan, karena di zaman kami kebanyakan menggunakan handphone.

    BalasHapus
  3. Halo kakak Arez. Salam damai. Wahh tulisan kakak ini sangat menginspirasi sekali. Mulai dari kegiatan training yang begitu membawa dampak yg sangat baik. Utamanya terkait dengan materi pendengar yang baik. Tulisan ini menjadi tolok ukur bagi saya, yg ternyata belum bisa menjadi pendengar yang baik bagi orang-orang sekitar. Dengan beberapa penjelasan dari tulisan ini apalagi dengan rumus "DENGAR JANG" saya berharap next time bisa jadi pendengar yang baik :) ohiya, saya juga berharap semoga tahun ini bisa ikut kegiatan trainingnya dan dapat materi itu langsung :v heheheh. Ditunggu tulisan berikutnya. Terus berkarya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah semoga kamu bisa ikut juga yah di training seperti ini. Semangat bergerak!

      Hapus
  4. Jadi inget juga nih pas dapat materi ini, materi yang bener bener aku simak baik baik, soalnya aku tau kalau banyak banget orang diluar sana yang butuh di dengarkan tapi orang yang mau mendengarkan orang lain sangat jarang, uhh terimakasih Arez udah ingetin lagi soal materinya. Semoga lebih banyak lagi orang yang akan mendengarkan orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kali kak! Semoga kita masih terus menjadi pendengar yang baik ya :)

      Hapus
  5. Hai Arez, it's really nice to see you sharing what you've got. Keep inspiring yaa :))

    BalasHapus
  6. Waaah lamami ini mauka dengar tapi baru ditulis sekarang. Semangat terus res. Semoga kedepannya bisa konsisten dalam ngeblog. (Kayak tong saya konsisten 😂)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin kak. doakan ya supaya bisa konsisten :)

      Hapus
  7. DENGAR JANG. Oke saya catat dulu rumusnya. Memang dibanding banyak bicara, banyak mendengar jauh lebih banyak mendatangkan manfaat ya apalagi klu mendengarnya secara aktif. Nggak pasif.

    Tapi kalau diliat dari rumus di atas , saya belum bisa jadi pendengar yang baik deh. Ups! Kadang-kadang cuma asal dengar saja tapi nggak respon secara tepat. Apalagi masih suka memotong pemicaraan juga nih. Kebiasaan yang jelek. Ups.

    So, thanks for sharing hasil trainingnya ya kak.Informatif sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uhh saya juga dulunya kek gitu tapi yah kita harus lagi lebih mengerti orang bukan hanya sekedar bercerita kak.

      Hapus
  8. Saya kira saat ini mmg banyak dibutuhkan relawan atau orang2 yg mampu menenangkan sesamanya. Miris rasanya melihat banyak di berita orang2 stress dan akhirnya mengarah ke bunuh diri, padahal hidupnya mash muda dan punya masa depan. Hidup ini tidak susah, meski juga tdk rumit. Yg paling utama adalah punya teman atau komunitas yang bisa diajak diskusi, sharing dll agar segala masalah bisa dibicarakn dan dicarikan penyelesaian positifnya.

    Saya lupa thn berapa saya jadi donatur kegiatan ini. Dulu ada teman yg hubungi sy utk ikut kontribusi, krn saya tahu tujuannya baik ya saya ikutan. Kayaknya waktu acara di Makassar, 2017 atau sblmnya.

    Sukses selaluki. Terimakasih sdh berbagi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama kak, terimakasih juga sudah berkunjung :)

      Hapus
  9. Pengetahuan yang sangat baik dan penting dimiliki oleh para relawan dan pekerja sosial. Mendengar dengan baik adalah pintu utama membangun empati dari lawan bicara atau informam. Terima kasih sudah berbagi, kak.

    BalasHapus
  10. Untuk orang yang introvert di dunia nyata, saya mungkin termasuk paling susah menjadi pendengar yang baik. Apalagi kalau orang sudah curhat soal pribadinya. Hahaha

    Makanya saya jarang jadi tempat curhat (dulu). Tapi sekarang sih lumayan, sudah mulai bisa menjadi pendengar yang baik dan mulai sering menerima curhatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha saya dulu seperti itu sih kak, pernah saya tanya teman ku bilang "bukanka mamah dedeh bela" wkwkwk

      Hapus
  11. memang lebih mudah menjadi pembicara yang dominan daripada menjadi pendengar yang baik. padahal dengan menjadi pendengar yang baik maka empati pada sesama akan tumbuh.

    BalasHapus
  12. Tanpa sadar saya mempraktekkan beberapa tips ini. Mungkin itu sebabnya suka ditempati beberapa teman untuk curhat. Mungkin beberapa orang tidak butuh solusi dari kita, mereka hanya ingin didengarkan. itu saja

    BalasHapus
  13. Yang lainnya adalah .... kalau tidak diminta solusi, jangan berikan solusi. Cukup menjadi pendengar saja. Setelah mendengarkan, cukup tunjukkan sikap bersimpati atau berempati, tidak usah berikan solusi karena orang yang mau bercerita kepada kita tidak selalu butuh solusi, bisa saja hanya butuh pendengaran biar lega hatinya.

    Ini pengalaman saya bertahun2 lalu soalnya hehehe.

    BalasHapus
  14. Mau ka bertanya kak berkenaan dengan ekspresif dan bersikap netral. Sepertinya kalau saya ekspresif saya tidak bisa mi tahan-tahan diriku. Saya sangat susah untuk tidak terbaca dalam berkomunikasi, makanya saya tidak sulit tampil apa adanya. Tapi itu mi susah kalau ketemu orang yang saya tidak suka, langsung kelihatan hahaha
    Bagaimana mi itu?

    BalasHapus
  15. Jadilah pendengar yang baik...yayaya. Itu yang sedang saya terapkan. Semakin ke sini pendengar yang baik makin susah ditemui. Apalagi jika sedang kumpul-kumpul dengan teman-teman, yang ada malah sibuk dengan gawainya masing-masing.

    Thanks sudah berbagi ilmunya Arez :)

    BalasHapus
  16. Wahh, inspiratif sekali kakak��. Apalagi memberi pemahaman melalui "Board Game" Yang memang lagi diminati banyak orang dengan tujuan bisa kumpul dan berinteraksi lepas tanpa ada yang sibuk sendiri dengan HPnya��.Pengen banget dapat materi lengkapnya langsung

    BalasHapus
  17. Ternyata menjadi pendengar tidak cukup hanya dengan "mendengar-oh-iya-he'em" jadi reflex ingat-ingat kembali saat saya mendengarkan ternyata tidak pernah menerapkan teknik-teknik ini. Terimakasih sharingnya kak, inspiring sekali. Salam :)

    BalasHapus
  18. Saya selalu merasa menjadi pendengar yang baik, kecuali pada suami 😝 #ehh. Setelah baca postingan ini, mungkin kurangnya saya sebagai pendengar yang baik itu diexpresi. Kalau dengar teman curhat saya biasanya pasang muka datar, mungkin itu bikin mereka berpikir saya dak minat kali ya dengar curhatan mereka.

    BalasHapus
  19. saya merasa sudah jadi pendengar yang baik. GR Deh.
    cuma memang jarang ada yang mau cerita sama saya karena kalau kadang saya memberikan solusi out the box sampai mereka yang bengong. *LOL*

    BalasHapus