Begini Cara Menyaring Informasi Di Dunia Maya!



Welcome to Indonesia, Welcome to the democracy year~

Tahun 2019 adalah tahun politik, tahun dimana menggebu-gebunya informasi terhadap masing-masing paslon. Banyak orang mencari informasi, semakin banyak pula yang memberikan informasi abal-abal.  Dalam kurun waktu bulan september sampai desember 2018 didapatkan 51 konten hoaks yang berjejaring di media sosial populer seperti whatsapp, facebook, instagram dan twitter. Dari 51 konten tersebut yang dilaporkan Kementerian Informasi dan Komunikasi berisi isu pesta demokrasi, Pilpres 2019.

Berita Hoaks mengenai "Broadcast Jokowi bagi-bagi pulsa gratis"
*tulisan disesuaikan dengan fakta

Gawai berupa smartphone merupakan alat yang sudah menjadi kebutuhan penuh bagi beberapa orang utamanya kaum milenial saat ini. Maka tak bisa dipungkiri bahwa media sosial merupakan sumber rujukan para milenial untuk mendapatkan informasi.

PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2017) mendapatkan data mengenai media sosial berperan penting dalam penyebaran paham radikal. Dalam hasil risetnya pada 34 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial sebagai sumber rujukan terbesar pertama yang mempercepat masuknya paham radikalisasi dengan persentase 50,89% (Api dalam Sekam, PPIM, 2017). Persentase tersebut bukanlah persentase yang rendah. 

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pun melaporkan 49,52% pengguna internet di Tanah Air berusia 19-34 tahun, sebanyak 29,55% berusia 33-54 tahun, kemudian 16,68% berusia 13-18 tahun, dan 4,24% yang berusia diatas 54 tahun (Kompas, 2018). Dari data diatas populasi pengguna internet didominasi oleh anak muda. Maka dari itu, pentingnya pemuda sebagai generasi penerus bangsa untuk bertanggung jawab besar dalam mengelola dan memanfatkan dunia maya.

Tidak ada cara yang jitu untuk menolak datangnya berita hoaks, propaganda dan sebagainya. Karena semua orang berhak untuk berpendapat. Tugas kita hanya menyaring informasi tersebut sebelum kita membagikannya ke orang lain.

Nah melalui tulisan ini, saya akan memberikan tips bagaimana bersikap secara bijak terhadap sebuah informasi demi Indonesia yang lebih damai dan Pemilu 2019 yang berkualitas dan bermatabat.

Tapi sebelum itu, sejatinya ada minimal 3 pertanyaan yang kita pertanyakan sendiri sebelum menyebarkan sebuah informasi yang kita dapatkan. Berikut  penjelasannya:


Terkadang, ketika kita menerima broadcast massage, tanpa berpikir panjang kita secara cepat menyebarkan kembali ke semua kontak yang ada di gawai kita. Padahal kita belum sama sekali ngecek apakah informasi tersebut benar. Nah berikut kiat-kiatnya;

Pertama, Cek Sumbernya. Apakah ada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan? Jika tidak ada sumber yang jelas, jangan sebar! Jika web/media massa, cek kredibilitas medianya. Bukan web atau blog abal-abal.

Kedua, Cek tanggal pemuatannya. Seringkali berita yang sudah tidak relevan disebar ulang padahal sudah beda konteksnya. Jika tidak ada keterangan waktu, jangan sebar!

Ketiga, Cek kredibiltas penulis, narasumber, referensi datanya. Sebuah berita atau informasi sebaiknya memiliki kutipan narasumber, minimal sebagai bahan rujukan referensi data.

Keempat, Cek berita atau informasi pembanding. Terakhir kita diharuskan mencari informasi pembanding dari sumber terpercaya. Misalkan berita Hoaks baru-baru ini mengenai Najwa Shihab yang katanya mendukung penuh Prabowo-Sandi sebagai kepala negara. Disini tugas kita cek terlebih dahulu dan mencari minimal di akun official Najwa Shihab sebagai informasi pembanding.


Setelah kita ngecek kebenaran informasi tersebut, sebaiknya kita telaah lagi apakah berita itu baik untuk dikonsumsi banyak orang? Apakah ada orang tersakiti dengan berita ini?


Informasinya benar? Sudah baik? Nah pertanyaan selanjutnya apakah beritanya bermanfaat?. Itu juga merupakan pertanyaan yang amat penting untuk kita telaah. Telaah sebuah informasi berhubungan langsung dengan sebuah prasangka. Prasangka muncul dari cara kita merespon terhadap suatu realitas atau suatu informasi. Kita secara tidak sadar mencampurkan penilaian subjektif dengan penggambaran objektif akibatnya kita menganggap semua berita sangatlah bermanfaat untuk di konsumsi. 

Penggambaran Bagian Otak Terhadap Suatu Informasi


Reptilian (Survival) Brain

Limbic (Emotional) Brain


Neo-cortex (Thinking) Brain

Nah ditahapan terakhir ini, sangat berhubungan dengan penggambaran bagian otak dan pemikiran kita. Kenapa? Di tahapan ini memiliki pertanyaan sangat besar “Apakah berita tersebut memberikan manfaat atau menyulut sebuah permusuhan?”. 
Sejatinya seorang manusia sangat perlu menerapkan sistem Neo-cortex Brain dalam mengolah suatu informasi. Karena bagian otak satu ini memiliki banyak pertimbangan dalam menyaring sebuah informasi yang kita dapatkan. Boleh saja memakai Reptilian Brain tetapi dalam situasi seperti ini sangat dianjurkan memakai Neo-cortex Brain.

Teman muda sangat perlu melihat video dibawah ini sebagai panduan mengolah informasi:




Sudah ditautkan juga dilaman http://bit.ly/mengolahinformasi



Teman muda, itulah tadi beberapa tahapan dan kiat-kiat yang harus kita lakukan ketika kita mendapatkan sebuah informasi. Semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran bahwa sebagai warga negara, kita memiliki peranan penting untuk mewujudkan pilpres yang damai, berkualitas dan bermartabat bukan malahan sebaliknya. Allah melaknat siapapun yang menjadi pemecah suatu bangsa loh! Menjadi pemecah hubungan aja Allah melaknat apalagi urusan banyak orang hehehe.

Salam Damai :)



***
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Artikel/Opini “Melawan Hoax Demi Suksesnya Pemilu 2019 yang Damai, Berkualitas, dan Bermartabat Serta Terwujudnya Keberlanjutan Pembangunan Nasional” yang diselenggarakan oleh Media Online Kata Indonesia.


Daftar Referensi

Bohang, Fatimah Kartini. 2018. Berapa Jumlah Pengguna Internet di Indonesia, [daring] (https://tekno.kompas.com/read/2018/02/22/16453177/berapa-jumlah-pengguna-internet-indonesia, diakses tanggal 13 Februari 2019).
Kominfo. 2018. Laporan Isu Hoaks November 2018, [daring] (https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/laporan%20isu%20hoaks%20November%202018.pdf, diakses tanggal 13 Februari 2019).
PPIM UIN Jakarta. 2017. Api Dalam Sekam, [daring] (https://www.youtube.com/watch?v=eHOzggORpVk&t=148s, diakses tanggal 13 Februari 2019).





28 Comments

  1. Menarik sekali untuk di ulas. Sedikit tapi sarat akan informasi. Bisa jadi acuan ketika menerima informasi yang belum di yakini kebenarannya. Good topik.

    BalasHapus
  2. Luar biasa, Terimakasih untuk informasinya kak, sangat bermanfaat untuk di jadikan acuan dalam memilih dan memilah informasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya banyak cara kak, cuman itu cara saya saja sih heheheh

      Hapus
  3. Nah ini baru informasi yang sangat bermanfaat..Penjelasannya detail..mantap bro..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus diberikan penjelasan yg detail daeng, supaya pembaca juga tau oh ternyata gini ya hehhe🙏

      Hapus
  4. keren ini! biar banyak yang paham kalau tidak semua hal harus dibagikan. musim pilpres ini akan banyak hoaks yang bertebaran. semoga banyak yang tidak ikutan asal membagikan hoaks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyee daeng. Saya sebagai naks milenial juga merasa capek dengar hoaks:(

      Hapus
  5. Ternyata ya usia 19-35 tahun yg paling gencarr pakai social media dan share2 informasi.

    Kalau di bawah usia itu lebih sering share hiburan2 di’ kak??

    Kalau diatas nya 35 tahun , share ceramah2 ji atau dakwah2 huehehehe

    Kadang kak tempat hoax terbanyak itu adalah group keluarga :((( di share terus berita dari group sebelah bede , mau negur juga gaenak nanti dibilang sok pintar sama om dan tante hahahahah

    Yang jelas sejak ikut kelas SIBERKREASI kemarin saya sudah sering info2 ke teman2 di sosmed tentang
    THINK BEFORE POSTING

    Karena ada jg biasa kajili2 share karena pengen diakui, pengen dibilangin manusia update padahal hoax ji huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astagaaaa saya juga merasakan hal yang sama. di grup keluarga banyak hoaks sering bertaburan, saya sebagai anak mau ngomong tapi nnti dikata sok bijak:(

      Hapus
  6. Emang penting itu tau kebenaran informasi yang kita terima sebelum disebarkan kembali.
    Jangan sampai kita dicap sebagai tukang sebar hoax.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus kak harusss. Kasihan kalo hoals berkepanjangan bela

      Hapus
  7. Ada juga yg disebut croch brain atau cockroach brain, yakni mereka yg menggunakan otaknya utk diisi dgn berita2 sampah dan disebarkan kemana2. Kadang croch brain ini disengaja, krn ada tendensi dan kepentingan tertentu utk merusak informasi yg ada di masyarakat. Biasanya tema politik dan agama. Orang2 yg berlatar croch brain inilah yg konon penyebar hoax.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul daeng. Croch Brain sama dengan Repitilian Brain. Cuman saya definisikan repitilian supaya luas hehehe. kan kalo Croch = Crochodile (buaya), semoha kita tidak sok2 menyalurkam informasi tanpa bukti yak!

      Hapus
  8. Sudah sering mendengar soal filtering ini, ini salah satu artikel pendek yang padat sebagai pegangan awal untuk menyaring banjirnya informasi yang masif bukan saja saat menjelang pemilu seperti sekarang. trims :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. semoga sistem saring to sharing bukan hanya menjelang pemilu tapi semoga bisa berkepanjangan.

      Hapus
  9. paling berat itu melawan hoaks yang disebar orang tua.
    mau keras, mereka orang tua
    dikaasih tahu baik-baik, mereka biasanya lebih marah lagi. apalagi kalau sudah bilang: ambil hikmahnya saja.

    doh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. grup keluarga banyak hoaks dishare daeng. mau negor entar dibilang "kami ini sudah duluan lahir daripada kamu. kami tahu yg kek gini"

      Allahuakbar

      Hapus
  10. Penyebaran berita hoax dn propaganda memang cukup meresahkn, apalagi menjelang pemilu thn ini, Instagram dan youtube seolah jadi panggung peperangan bg akun-akun tertentu yang memposting sesuatu yg cukup memprovokasi. Memang skrg ini warganet hrs smkin cerdas, dn perlu diberi byk edukasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tosss kak! semua medsos sepertinya begitu. kalo saya banyak dapatnya di Grup whatsapp dan facebook hufftt!

      Hapus
  11. "Teman muda", saya suka sekali kata itu 😊.

    Tulisannya detail dan ringkas, mudah dipahami juga. Keren kak! Memang hal-hal itu perlu kita terapkan untuk memberantas hoax. Tapi toh yang sa amati ini yang suka sebar hoax tanpa mengecek itu malah ibu-ibu dan bapak-bapak umur 40an ke atas yang ada tongmi whatsapp dan facebooknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. teman muda biar semuanya terasa muda dan mudah hihihi

      Ohya, sy juga pernah baca tulisan di Tirto.id bahwa berdasarkan penelitian, salah satu penyebar hoaks adalah golongan dewasa, sebab mereka bertemu sama gadget pas diusia yg sdh terbilang tua, sehingga untuk permasalahan menyaring info sangat kurang, tapi lebih kepada "mau dikata update" jadi asal share tanpa filter

      Hapus
  12. Informatif banget kak. Tahun pemilu ini memang rawan Hoax jadi memang kita perlu hati-hati dalam menyebarkan konten di media sosial. Jangan asal menyebarkan berita. Sekali pun berita itu benar tetap kita juga harus perhatikan apakag berita itu baik dan bermanfaat atau justru menimbulkan mudarat. Btw thanks for sharingnya ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu paling penting kak. kalo tidak baik dan bermanfaat, bisabisa jikalau benar akan jadi ghibah kalau salah malah jadi fitnah.

      intinya baik-baik saja begitu di'

      Hapus
  13. Pas banget nih postingan dengan keadaan sekarang yang makin memanas gegara pilpres :(

    Seandainya pada sadar dengan hal2 seperti ini, dunia daring (harusnya) tidak sekeruh sekarang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keruhnya udah kek air comberan. makin banyak orang buang kotoran (hoaks) kasihankan lingkungan kita:")

      Hapus
  14. Nah..bagus ini postingan dibagikan ke grup WA. Terutama grup WA keluarga wkwkwk, mengingat di sanalah hoax-hoax tersebut bertebaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha saya pun seperti itu kak hehehe
      tapi cara yang ampuh biar tidak dikatakan sok ceramah, kirim link ini aja secara diam dan kalem hahahah

      Hapus