Kalahkan Bullying Dengan Karya!


Perundungan atau biasa disebut bully bukanlah hal yang jarang kita temui di lingkungan sekitar kita. Katakanlah di sekolah, ibaratkan nasi, kekerasan verbal satu ini sudah menjadi makanan pokok di kalangan anak muda saat ini

Survey yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) mengenai angka kekerasan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Didapatkan ada 47,3% anak muda pernah merasakan tindakan kekerasan verbal di sekolah yaitu bully. Angka ini bukanlah angka yang kecil jika diperhatikan. Iya, miris!

Sementara itu, data dari Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia mendapatkan ada enam fakta kekerasan di Sekolah untuk tahun 2016-2020. Didapatkan 84% siswa pernah mengalami kekerasan di sekolah salah satunya yang paling berkembang kekerasan verbal seperti bullying.

Sumber: www.idntimes.com

Teringat sewaktu SMP dan awal masuk SMA, saya sering mendapatkan tindakan kekerasan jenis tersebut di sekolah. Dari kakak kelas sampai teman kelas sering melakukan hal itu kepada saya sendiri.

Impresi awal ketika masuk sekolah baru apalagi kita menjadi siswa baru, antara senang karena kita sudah masuk kejenjang selanjutnya yah takutnya lagi semakin tinggi pendidikan yang kita jalani, semakin besar juga tindakan seperti itu kita dapatkan.

Pernah sewaktu masuk SMA, saya sering mendapatkan perpeloncoan dari kakak kelas seperti disuruh beli sesuatu (misal air botol) dengan uang seharga yang ingin dibeli tetapi harus mengembalikan  diatas minimal uang yang dikasih sama kakak kelas. Yah itu namanya Senioritas!


Ko belikan sana saya air botol, ini ada uang ko ambil 3ribu tapi ko kasih kembalikan saya 5ribu nah. Awas memang ko kalau tidak begitu!

Nah, ternyata hal yang sama pernah dialami oleh siswa-siswi SMA di Kota Makassar. Cerita yang sama, saya dapatkan ketika saya menjadi seorang  fasilitator training yang membahas isu perdamaian dan anti kekerasan. Training ini mengajak anak muda di Kota Makassar untuk speak up tentang apa yang mereka alami di sekolah dan di lingkungannya.

Ceritanya beragam. Ada yang di bully karena badannya yang besar, kulitnya yang agak gelap sampai nama orang tua yang terkesan aneh di bully juga. Parah sih! Tapi itu belum seberapa, ada yang bercerita tentang temannya yang bunuh diri akibat di bully oleh teman sekolah karena nilai rapornya menurun. Bukan semangat yang diberikan tetapi bullyan. Ini asli parah!

Sebagai korban bully, saya berpikir seperti ini “Apa hanya karena saya dibully, saya mau makin terpuruk? Makin tidak produktif?” nah disini saya merasa bahwa everyone can speak a loud!. Mari bungkam si pembungkam dengan karya!

Tentang Rizka dan Cipta

Salah seorang korban bully, Rizka Raisa, siswi SMA di Kota Makassar yang berhasil memenangkan kontes komik dunia yang diadakan oleh UNICEF dan mengalahkan 3615 orang dari 130 negara dari seluruh dunia. Korban bully satu ini mampu melewati fase terpuruknya yang menghadirkan sebuah karya yang fantastis dengan menciptakan tokoh super hero bernama Cipta.

Digambarkan juga karakter Cipta ini seorang gadis remaja, berambut coklat pendek yang menggendong tas ransel dan menyarankan seorang anak untuk mengekspresikan masalahnya dalam sketchbook. 

Pihak UNICEF memberikan tema seputar kekerasan sosial atau bullying, Rizka pun mencoba mengingat-ingat beberapa hal yang pernah ia alami. Ia mengaku bahwa cerita dari komiknya berasal dari pengalamannya sendiri yang resah semakin banyaknya tindakan perundungan yang ia dapatkan di sekolah, misalnya ketika ia mengalami senioritas saat menjadi murid baru, dan beberapa perlakuan kakak kelas yang kurang baik. Bukan hal yang gampang bagi Rizka dalam membuat konsep ceritanya, ia butuh ketelitian yang mendalam untuk proses pembuatannya mulai dari konsep, editing sampai finishing.

Ketika saya temui di talkshow kemarin yang mengangkat tema “Kalahkan Kekerasan dengan Komik”, Rizka bercerita bahwa ide kekuatan super yang dimiliki Cipta terinspirasi dari kartun Nickelodeon's Chalk Zone dan SpongeBob SquarePants dalam episode pensil ajaib yang menciptakan tiruan SpongeBob yang jahat bernama "DoodleBob".

Saat Rizka bercerita tentang komiknya.

Sedari kecil, Rizka memang menyukai seni menggambar. Menggambar adalah hal yang luar biasa untuk dia. Dari passion-nya tersebut, ia semakin mengasah skill desain visualnya secara otodidak. Dan pada akhirnya, bulan oktober lalu ia mengikuti seleksi tersebut dan memenangkannya akhir 2018 lalu.

Memang bukan hal yang muda menciptakan sebuah karya. Tapi remaja seusia Rizka mampu melakukan hal itu.

Teman muda, melalui sosok Rizka ini, saya ingin menunjukkan semua orang bisa speak up! Contohnya speak up melalui sebuah karya. Sesuai unggahan UNICEF di akun instagram nya, nantinya karya Rizka akan disebarluaskan ke 100.000 sekolah di seluruh penjuru dunia.

Komik Cipta karya Rizka Raisa
Sumber: @unicef on Instagram

Nah teman muda, bagaimana menurutmu?. Korban bully seperti dia pun mampu berkarya. Passionnya di dunia desain tidak hanya membawanya sebaga pribadi yang berani berkarya namun dengan passionnya bisa memberi manfaat bagi dunia perdamaian internasional. Untuk apa kita bersedih? Toh kita bisa lebih daripada mereka yang merendahkan kita.

Semua orang mampu berdaya dengan karya. Tinggal kamu bagaimana memperdayakan passion mu. Apakah kamu mau seperti Rizka? Yang terkenal dan disorot oleh mata dunia dengan komiknya? Bagi kamu yang jago gambar seperti Rizka, kamu bisa meng-upgrade passion mu dengan mengikuti kelas luar sekolah karena mungkin pengajaran seperti ini susah didapatkan di sekolah.

Teringat perkataan Steve Jobs (Inisiator & Ex-CEO Apple Inc) dalam teori Connecting the dots;
You can’t connect the dots looking forward, you can only connect them looking backward.  

Dalam kuliahnya dia tidak selesai karena merasa hanya menghabiskan uang orang tuanya, tetapi dia mengikuti kelas kaligrafi yang sangat ia sukai. Dari itu semua ia merasakan manfaatnya. Saat mendesain komputer Mac pertama kali, semua hal yang diajarkan di kelas kaligrafi itu muncul. Lalu ia mengkombinasikannya kedalam komputer Mac dan alhasil muncullah komputer pertama di dunia dengan perpaduan tipografi yang sangat menawan dan indah.

In Case, Steve Jobs mengajarkan kita bahwa Pendidikan Formal belum tentu memiliki peranan besar dalam dunia karir. Pendidikan Luar Sekolah pun sangat penting untuk diterapkan. 


Teman muda boleh banget mengikuti workshop pembuatan komik atau komunitas yang bergerak pada dunia gambar dan sketching seperti Indonesia Sketcher yang sudah tersebar di beberapa daerah di Indonesia atau Indonesia Menggambar juga boleh.

“Kak, saya sulit bersosialisasi dengan orang banyak. Saya malu-malu”.

Gak usah risau! Kamu bisa kok ikut kelas pendidikan di luar sekolah seperti kursus desain grafis. Kalau kamu mengikuti kursus desain grafis, kamu bisa dimentori dengan baik oleh sang mentor, bisa sharing bareng dengan memunculkan ide-ide kreatif lainnya. Wah serenok kan?

“Kak, saya mau ikutan kursus serupa dimana yah bagusnya?”

Pertanyaan yang bagus! Kamu orang yang beruntung membaca postingan ini Teman Muda!

Teman muda mau jago desain? boleh banget kursus di Dumet School. Dumet School ini tempat kursus desain grafis yang tepat buat kamu. Kamu akan diajarkan cara membuat banyak karya dari logo, brosur, infographis sampai komik pun bisa loh Teman Muda!.

Visit Now: https://www.instagram.com/dumetschool/


Well, apa aja fasilitas yang kamu dapatkan ketika kursus di Dumet School?. Nah di Dumet School kamu akan mendapatkan fasilitas yang prima loh seperti dibawah ini:


Nah, gak hanya siswa loh yang dapat bergabung di Dumet School. Kamu Mahasiswa? Fresh graduateEnterprenuer? Bekerja? Semua boleh banget gabung di Dumet School. Karena Instruktur di Dumet School memiliki kredibilitas dan pengalaman yang sudah tidak diragukan lagi!

Credit by skymeteor.com

Apalagi yang membuatmu bingung? Biaya? Yaelah, biaya tidak membohongi kualitas.

DUMET School tidak hanya menjual janji dan mimpi sukses mendapatkan keahlian di bidang desain grafis, namun DUMET School benar-benar memberikan bukti nyata kalau para murid dan alumni yang belajar di DUMET School berhasil menguasai desain grafis. Sebagai pendukung pernyataan ini, kamu bisa melihat testimoni dari Isra salah satu murid DUMET School berikut ini:



Testimoni Murid Dumet School


Wah, ternyata Dumet School memberikan project bagi muridnya untuk lebih mendalami materi yang telah diajarkan. So, kita sebagai murid juga punya bahan latihan yahh. Asik nih!

Jika teman muda pengen seperti Rizka boleh banget ikut kelas design graphics dari Dumet School.

Untuk proses pembuatan karya Rizka pun memakai tools design yang diajarkan di Dumet School loh! Rizka menggunakan alat gambar, seperti pensil, marker, penghapus, dan rautan pensil. Ia juga dibantu oleh alat sketching eletronik Wacom, dan software Mediabang dan PhotoShop.




*****
Nah teman muda, melalui Rizka Raisa, kita belajar bahwa semua orang bisa berkarya. Sebagai korban bully, Rizka tak pernah merasa terpuruk untuk terus berkarya. Tak patut untuk kita selalu terpuruk, sekali lagi everyone can speak a loud!

Sebagai orang Makassar yang bergelut di dunia perdamaian dan anti kekerasan, saya sangat bangga dengan Rizka. Ternyata masih ada anak muda yang mampu berkarya dengan segala penindasan yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya. Semoga teman muda juga bisa seperti Rizka yah, yuksss upgrade skill mulai dari sekarang!

Ini nih ada pesan dari Rizka untuk teman muda semua untuk terus berkarya dengan cara apapun;

Rizka Raisa - The Winner Comic Contest by UNICEF

Salam Damai :)


Daftar Referensi

Indiana Malia. 2018. PR Hari Pendidikan Nasional: Angka Kekerasan di Sekolah Masih Tinggi!, [daring] (https://www.idntimes.com/news/indonesia/indianamalia/hari-pendidikan-kpai-kekerasan-di-sekolah/full, diakses tanggal 23 Februari 2019).
Dumet School. (https://www.dumetschool.com/, diakses tanggal 24 Februari 2019).
Dumet School. (https://www.instagram.com/dumetschool/, diakses tanggal 24 Februari 2019).
Dumet School. (https://www.youtube.com/watch?v=mVkDEePupQs, diakses tanggal 24 Februari 2019).
UNICEF. (https://www.instagram.com/unicef/, diakses tanggal 24 Februari 2019).

***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Dumet School periode bulan Februari 2019.





21 Comments

  1. bagus juga ikut dumetschool unutk menambah skill design, sayapun kurang pandai dalam menggambar apalagi mendesgin bisa-bisa cakar ayam hasilnya.. hahahahha

    BalasHapus
  2. semoga makin banyak yang bisa seperti Rizka yang berani bicara soal perundungan. apalagi kalau speak up nya pakai karya. keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap! selain bisa speak up bisa menghasilkan karya yang diakui diseluruh dunia

      Hapus
  3. Lihat postingan langsung ingat postingan gurunya Bu Ulfah dengan judul kami bangga pada nak..Adek Inilah role model yang sesungguhnya di Indonesia..

    Bdw kalau yang kerjaiin seniornya ,knp ngak lawan hehe..pattol besar itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah bangga sekali pasti bu ulfah yah.

      Apalah daya kita seorang junior yang masih luguh:")

      Hapus
  4. Keren sekali bisa berkarya seperti rizka. Inimi mungkin yang dinamakan bersedih2 dulu bersenang-senang kemudian. Meski pernah dapat perlakuan bully tapi itulah yang membuatnya jadi juara. Mantappp

    BalasHapus
  5. Untung saya baca postingan ini. Sudah lamami bungsuku mau belajar desain grafis.
    Stalkin dulu webnya de. Terima kasih yah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yukyuk kepoin dumetschool, bisa cek IGnya di @dumetschool

      Hapus
  6. Pernah sewaktu masuk SMA, saya sering mendapatkan perpeloncoan dari kakak kelas seperti disuruh beli sesuatu (misal air botol) dengan uang seharga yang ingin dibeli tetapi harus mengembalikan diatas minimal uang yang dikasih sama kakak kelas. Yah itu namanya Senioritas!

    Terpaku ka' baca bagian itu.
    Astaghfirullah, makin banyak saja bullying ya.

    BTW, Arez hadir sewaktu Rizka berbagi di BaKTI? Saya juga hadir di sana dan menuliskannya.

    Iya, nih pendidikan luar sekolah seperti Dumet School memang perlu ya, biar anak muda bisa makin mengembangkan kreativitasnya dan mengasah keterapilannya. Sukses ya Arez

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaahhh, saya hadir kak. tapi cuman sebentar soalnya ada kegiatan ditempat lain, saya bagi waktu. Masih muda Rizka bisa inspiring banyak orang dengan karyanya yah

      Sangat perlu kak niar, supaya bisa mempersipakan zaman yang semaking berkembang.

      Hapus
  7. Rizka raisa idolakuuuu.. Saya selalu suka sama perempuan2 berkarya. Apalagi berkarya dan memperjuangkan sesuatu kayak Rizka ini. Duh panigam bangeeet 💕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emansipasi wanita di' kak.

      Perempuan juga bisa asieeqqq!

      Hapus
  8. Jadi ingat waktu jaman sekolah dulu sering juga jadi bahan bullyan tapi nggak kepikiran mau melawan dengan karya.

    Btw inspiratif sekali sosok Rizka ini. Salut saya. Dia bukan cuma bisa melawan bullyan dengan karya tapi juga mengharumkan nama Indonesia atas prestasinya yang mampu memenangkan kontes komik UINICEF. Sosok anak muda yang memang patut jadi contoh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapa tau nanti di bunayy akan seperti Rizka ya. Semoga dia bisa berkarya juga dan mengharumkan nama Indonesia dikancah Internasional. Azeek!

      Hapus
  9. Sebagai orang tua yang punya anak remaja, “bully” ini selalu jadi kekhawatiran.
    Apa yang dilakukan Rizka ini semoga membuka mata bagi semua pelaku bully khususnya di Indonesia, bahwa mem”bully” tidak akan membuatmu keren. Tapi berkarya, itulah keren yang sesungguhnya.

    Good job, Rizka.
    Semoga terus menginspirasi remaja lain di seluruh dunia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, betul kak!

      Teringat perkatan Founder PeaceGen, Kang Irfan. Beliau bilang kek gini "Bully tidak akan membuatmu keren, hanya menandakan bahwa kamu berasal dari lingkungan yang hectic!"

      Hapus
  10. Bully di sekolah selalu menjadi polemik bagi di Indonesia ini. Menurutku yang paling mempenharuhinya adalah cara orangtua mendidik anaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yas, benar sekali kak! Pendidikan rumah dan sekolah yag sangat kurang menurutku sih.

      Hapus
  11. Dumet School emang keren lahhh idola banget

    BalasHapus