Inilah Kesalahan Berpikir dalam Menanggapi Aksi Teror

Siang itu, kami baru saja balik dari Sholat Jum'at berjamaah. Kali ini Kantor lagi ramainya, sebab kami baru saja melakukan pembukaan Sekolah Anak Bangsa (SAB) yang merupakan program kami di KITA Bhinneka Tunggal Ika Foundation.

Lelahnya menaiki satu persatu anak tangga dari lantai dasar sampai lantai empat. Tiba-tiba salah seorang temanku berkata,
"Astagfirullah, naudzubillah, kenapa ada orang yang setega ini sih!" kata Irwan, temanku.

Irwan menyuruhku segara cek kiriman video yang dikirim salah seorang teman lain di WhatsApp. Innalillah, ternyata kabar penembakan brutal di Christchurch, New Zealand.

Jum'at, 15 Maret lalu. Dunia dikejutkan dengan serangan teror yang dilakukan salah seorang pria terhadap dua masjid di New Zealend. Sebanyak 49 orang dikabarkan tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan yang berlangsung selama beberapa menit itu.

Insiden ini terjadi di Masjid Linwood Avenue dan Masjid An-noor di Deans Avenue. Kedua masjid itu berada di wilayah Christchurch. Dari kabar yang didapatkan, jumlah korban terluka dalam kejadian itu mencapai 48 orang dan semua diidentifikasi Muslim.

Memang penyerangan waktu itu dilakukan sebelum memasuki waktu sholat jum'at di Wilayah tersebut. Dimana Masyarakat Muslim di Christchurch sedang melakukan persiapan ibadah sholat jum'at.

Parahnya lagi, pelaku sempat menyiarkan langsung serangan tersebut di Facebook Live selama 17 menit. Laknatullah!

Asal Usul Teror Christchurch



#1 Terinspirasi dari Anders Breivik

Brenton Tarrant merupakan pelaku penembakan di dua masjid itu mengakui dirinya sebagai seorang yang terinspirasi dari Anders Behring Breivik, seorang pembunuh massal asal Norwegia.

Breivik adalah pelaku pembuhunan terhadap 77 orang di Norwegia pada tahun 2011 yang didasari kebencian terhadap Muslim dan Imigran. Dia dihukum 21 tahun penjara oleh Pengadilan Norwegia dan merupakan hukuman maksimal yang dibolehkan di negara tersebut.

Dalam manifesto yang sempat ditulisnya, Tarrant  menuliskan “Saya telah membaca tulisan-tulisan Dylann Roof dan banyak lainnya, tetapi hanya benar-benar mengambil inspirasi sejati dari Knight Justiciar Breivik. Ini terkesan keren di mata saya".

#2 Follow Up Teror Stockholm 2017

Tarrant ini mengakui melakukan pembunuhan itu sebagai balas dendam atas kematian Ebba Akerlund, seorang anak berusia 11 tahun yang terbunuh dalam serangan teror di Stockholm yang dilakukan Rakhmat Akilov pada tahun 2017.

Akilov diidentifikasi tercatat sebagai warga negara Uzbekistan berusia 39 tahun yang mengaku bertanggung jawab atas serangan ini dan mengaku bersimpati kepada Negara Islam Irak dan Syam.

Akilov membajak truk barang dan menabrak kerumunan di sepanjang jalan bebas kendaraan di pusat kota Stockholm, Swedia. Serangan ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai sejumlah orang.

***

Terasa sudah jelas sih bagaimana asal usul aksi teror tersebut. Beberapa pemberitaan nasional maupun internasional telah menyebutkan hal yang sama.

Di Indonesia sendiri sudah banyak aksi terorisme terjadi. Tiga tahun terakhir ini saja sudah banyak kita dapatkan, contohnya; Januari 2016, Bom bunuh diri dan penembahkan di Wilayah Thamrin, 8 orang tewas dan 26 orang terluka parah. Tahun 2017, serangan teror banyak diarahkan kepada kepolisian diantaranya dilakukan di Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kemudian Mei 2018, Bom bunuh diri di tiga Gereja di Sidoarjo dan Surabaya setidaknya 28 orang tewas.

Tidak ada definisi tunggal atas nama terorisme. Tetapi suatu kejadian dikatakan kekerasan eksterimisme seperti aksi teror, jika:

Pertama, adanya kekerasan
Kedua, berhubungan dengan keyakinan dan pola pikir (ideologi).
Ketiga, bertujuan untuk menimbulkan rasa takut terhadap masyarakat dan pemerintah.

Poin pertama bisa dikatakan main action dari ketiga poin diatas. Poin kedua dan ketiga adalah Pre-action dalam sebuah kekerasan eksterimisme.

Ideologi yang Salah

Berhubungan dengan ideologi, pernah gak dengar kata teman atau seseorang dengan perkataan kira-kira seperti ini,

"Jangan mau main sama dia! Kita itu beda" atau "Jangan main sama dia, nanti kamu ikutan".

Lalu apa hubungan dengan topik ini?
Jelas berhubungan!

Ketakutan dan prasangka bisa menjurus ke intoleransi terhadap suatu kaum. Persoalannya, pola pikir yang intoleran bila terus menguat akan berujung pada tindakan radikalisme. Nah sikap radikalisme ini akan menghasilkan bibit baru yang namanya kekerasan eksterimisme seperti terorisme.



Menurut Survey "Api dalam Sekam" yang dilakukan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di 34 Provinsi di Indonesia, didapatkan sebanyak 33,34% siswa dan mahasiwa setuju bahwa tindakan intoleransi terhadap kaum minoritas tidak masalah.

Jika kita berkaca dengan kasus teror di Indonesia yang telah saya paparkan sebelumnya, tentang bom bunuh diri. Hal ini sangat berhubungan juga dengan dukungan generasi milenial terhadap Jihad = Bom Bunuh Diri sebesar 23,35% dan Jihad = Perang sebesar 37,71%.


Menanggapi data diatas, substansi terbesar dari sebuah Kekerasan Eksterimisme adalah ideologi yang salah.

Pernah saya dapatkan teman di WhatsApp membuat status yang buat saya tercengang lebar, kira-kira isinya begini:

"Dibilang kafir kok marah?"

Pertanyaannya sekarang, siapa orang yang tidak marah dikatakan kafir? Inilah bibit kebencian seperti ini yang menimbulkan terjadi perpecahan, itu dari mana asalnya? Yah dari kecelakaan berpikir kita.

Aksi teror kemarin semakin menguatkan ideologi baru bahwa aksi teror ini dilakukan oleh agama tertentu. Padahal tidak ada agama apapun yang mengajarkan konflik dan kekerasan. Semua agama mengajarkan umatnya untuk kasih sayang dan damai antar umat manusia.

Aksi Teror Membuat Takut Masyarakat

Lalu yang ketiga, terorisme itu menimbulkan ketakutan terhadap masyarakat.

Kembali ke aksi teror di Christchurch, apa yang membuat kita heboh mengenai aksi tersebut? Yah pasti banyak orang menjawab kita diperlihatkan keganasan Monster yang membabat habis lawannya. Kira-kira video yang didapatkan teman saya tadi dari mana? Yah dari tangan jahilnya kita.

Secara tidak sadar kita sudah melakukan aksi teror dan mendukung si teroris untuk menjalankan salah satu misinya. Yang paling penting lagi dan sering dilakukan jika kita mendapatkan konten, baik itu foto, gambar, video yang berkaitan dengan teror dan kekerasan, Jangan sebar!

Boleh saja kita waspada dengan berita teror, tapi kalau asal sebar tanpa cek kontennya terlebih dahulu alih-alih membantu orang untuk waspada tapi kita malah ikut menebar ketakutan.

Noted for our self; Think before sharing, Saring sebelum Sharing.


Salam Peace.

12 Comments

  1. saya termasuk orang yang hampir tidak pernah share berita-berita yang belum tentu kebenarannya, karena sudah banyak kasus yang akhirnya di pidanakan karena memberikan informasi yang tidak sesuai. Harusnya sebagai pengguna Smartphone kita bijak dalam menyikapi segala sesuatu kek aku tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Well done kak! Sebagai manusia yang terdidik sangat perlu pemikiran seperti kak icha. Mantaappp

      Hapus
  2. "alih-alih membantu orang untuk waspada tapi kita malah ikut menebar ketakutan" noted kak.

    Memang sudah seharusnya kita bijak dalam menyebar informasi di media sosial ya kak. Termasuk yang berkaitan dengan teror.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak. Saya biasa menegur teman yang seperti itu, tetapi dia balas "Lagian ini supaya orang-orang tahu mukanya ini si laknatullah". Yakk tapi sikap mu buat orang takutkan

      Hapus
  3. Well done rez! tidak sia sia arez aktif sebelumnya di peacegen wkwk ternyata wawasannya tentang isu terorisme dan radikalisme semakin dalam. Kalau ketemu boleh lah sharing. Btw setelah baca tulisan ini, Jadi ingat materi materi waktu ikut pelatihan peacegen dulu..

    BalasHapus
  4. Video penembakan kemarin memang sangat brutal dan membuat takut. Saya pun menasihati sepupu saya untuk tidak menyebarkan video tersebut karena dampaknya, yaitu ketakutan, tapi sayang tidak digubris :(

    BalasHapus
  5. Setuju, jangan ikut menyebarluaskan konten kekerasan, pornography dan konten merusak lainnya. Dan langsung report akun media sosial yang mengunggah konten semacam itu.
    Kalau ikut menyebarluaskan sama saya dengan ikut menyebar teror, tapi sayangnya masih ada orang yang melakukan hal tsb.

    BalasHapus
  6. Saya salah fokus ke infografisnya hahaha
    keren! sudah ada tambahan infografis yang bikin pembaca jadi lebih paham sama isu yang mau disampaikan.

    tapi saran saja ya, infografisnya masih agak kurang nyambung dengan judul tulisan. mungkin akan lebih bagus kalau ditambah satu lagi yang benar-benar menyarikan inti dari tulisan ini (kesalahan berpikir dalam menanggapi teror).

    berarti data utamanya yg harus disaring dulu.

    terus kritikan kedua, setiap infografis sebaiknya ada pengantarnya biar kita yang membaca bisa paham dengan baik apa yang akan diceritakan di infografis tersebut.

    nice job! teruskan! hahaha

    BalasHapus
  7. Miris jg dgn berita ini. Katanya sih gara2 game pubg itu, makanya kluar fatwa mngejutkan yg mengharapkannyaa.

    BalasHapus
  8. Namanya juga teroris ya, tugasnya menebar teror biar masyarakat jadi takut.
    Tapi setauku, yang namanya agama tidak ada yang mengajarkan kekerasan. Jadi kalo mengatasnamakan agama untuk menebar teror, berarti pelakunya salah dalam memahami ajaran agamanya.

    BalasHapus
  9. Suka sekali tulisan yang pakai data kayak gini. Banyak banget sebenarnya isu-isu yang sekarang ini bikin pusing kalau dipikirkan. Kita butuh banget edukasi bermedsos. Hal2 seperti ini memang harus pelan2 dan konsisten disampikan kepada pengguna medsos. Diiih baca tulisan ini saya overthinking lagi 😪😴😴

    BalasHapus
  10. menyebarkan video teror itu memang akan menduplikasi teror itu sendiri dan justru seperti yang diinginkan para teroris..

    BalasHapus