Kenali Design Thinking Sebelum Bikin Project


Berkecimpung di komunitas memang belum lama, yah kira-kira sejak saya masuk kuliah, tepatnya 2015. Awal masuk komunitas di 1000 Guru Sulawesi Selatan, komunitas pendidikan yang fokus pada pendidikan pedalaman.

Semakin lama saya berkomunitas membuat saya semakin ingin mencoba banyak komunitas yang concern nya berbeda. Taruhlah Peace Generation Indonesia. Ini bukan komunitas sih, mereka ialah NGO (Non Gonverment Organization) atau biasa disebut LSM. Peace Generation sendiri concern pada Pendidikan Perdamaian dan Anti Kekerasan melalui media yang kreatif. Awal tahun 2018 saya bergabung di sebuah training yang bertajuk "Boardgame for Peace" yang diselenggarakan di Kota Makassar.

September 2018, PeaceGen membawa saya kembali untuk ikut di pertemuan agent of peace (sebutan untuk alumni program atau kegiatan Peace Generation) yang bertajuk Agent of Peace Summit 2018 di Tabanan, Bali.

Singkat cerita, di kegiatan itu teh Defit sebagai Agent of Peace Coordinator memperkenalkan satu metode untuk membuat sebuah project yaitu Design Thinking.

Tak usah panjang lebar saya bercerita, mari kita simak. 

Apa itu Design Thinking? 

Design Thinking merupakan proses kreatif problem solving. Metode ini menuntut tingkat empati dan pemahaman yang tinggi terhadap pengguna akhir, dan proses berulang mengembangkan ide-ide baru, menantang asumsi, dan mendefinisikan kembali masalah dengan tujuan mengidentifikasi solusi alternatif yang mungkin tidak selalu terlihat.

Design Thinking sendiri dipopulerkan oleh David Kelley dan Tim Brown pendiri IDEO – sebuah konsultan desain yang berlatar belakang desain produk berbasis inovasi. Kita bisa memanfaatkan design thinking untuk mengembangkan perusahaan ini baik itu startup maupun korporasi. Metode ini menggabungkan kebutuhan pengguna dan teknologi terbaru, maka implementasi design thinking akan melahirkan ide-ide baru yang inovatif dan solutif. 

Umumnya metode ini dipakai oleh perusahaan besar yang ingin mengembangkan produknya. Metode ini sangat populer di dunia Internasional, entah itu untuk bisnis ataupun kegiatan lainnya. Untuk di Indonesia sendiri masih kurang mengenal metode ini, umumnya kita di Indonesia memakai Analisis SWOT untuk membuat sebuah project. Nah untuk Design Thinking ini merupakan main methode dari Analisis SWOT jika diperhatikan.

Di Artikel ini saya ingin membahas sedikit metode tersebut, hanya kulit-kulitnya saja. Soalnya saya juga masih belajar dalam menggunakan metode ini. Semoga bermanfaat ya.

Elemen Penting Design Thinking

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, metode ini menggunakan proses yang inovatif dan kreatif. Design Thinking harus menggunakan pemikiran out of the box. Untuk itu ada empat elemen penting dalam menggunakan metode ini. Berikut keempatnya;

#1 Human-Centered

Karena basisnya Human-Centered, maka pemahaman kita terhadap target sangat penting. Pada aspek ini kita diajak untuk bagaimana menimbulkan rasa empati dan pemahaman kita terhadap sebuah isu di lingkungan sekitar. 

#2 Highly Creative

Seperti yang saya bilang tadi, design thinking menggunakan proses yang kreatif. Umumnya kita menggunakan juga yang namanya Analytical Thinking seperti Analisis SWOT. Nah untuk yang ini, benar-benar kita diajak wild lagi dalam berinovasi. Karena nilai jual design thinking adalah berpikir kreatif yang tidak pada biasanya.

#3 Hands On

Kita diwajibkan membuat prototype dari semua solusi yang paling kreatif dalam menyelesaikan masalah yang ingin diintervensi. Prototype ini agar kita bisa memetakan langsung solusi yang memiliki potensi yang realibel. Banyak metode yang dapat kita pakai seperti Paper Prototypes, Click-Dummies, ataupun Rapid Prototypes.

#4 Iterative

Sebelum project itu diterapkan di masyarakat, kita perlu melakukan testing dan eksperimen lagi agar sesuai dengan hipotesis awal kita dalam membuat sebuah project. Apakah benar-benar sesuai dengan kebutuhan sasaran. 

Tahapan Design Thinking

Sekarang sudah banyak versi yang dipakai oleh orang-orang dalam membuat sebuah project. Akan tetapi saya hanya membahas sesuai yang saya tahu dan pelajari saja. Saya biasanya memakai versi IDEO, sebuah perusahaan desain internasional yang visinya menciptakan dampak melalui desain.



Dalam versinya, IDEO memakai tiga tahapan. Tahapan ini dipersempit lagi yang pada umumnya ada lima tahapan. Berikut tahapannya;

#1 Inspire

Dalam tahapan ini, design thinking fokus pada eksplorasi diri. Melakukan research yang jelas sesuai dengan sasaran yang ingin dituju.

Harus betul-betul teridentifikasi kebutuhan sesungguhnya dari target. Untuk melakukan identifikasi yang tepat diperlukan pemahaman yang baik. Pemahaman ini bisa diperoleh dari wawancara dengan target, observasi, membuat pohon analisa agar kita bisa menganalisis roots of problem, trigger dan core issues dari masalah yang ada.

Pemahaman juga membantu kita untuk berempati kepada target, sehingga kita bisa mengerti kebutuhan dari target.

Nah roots of problem inilah sebagai bahan bawaan kita memasuki tahap kedua yaitu Ideate.

#2 Ideate

Output dalam tahapan ini adalah Rancang Project (Design) tetapi sebelum itu perlu melakukan tiga tahapan lagi yaitu Analisa How Migth We, Brainstorming, dan Pick Idea.

Analisa How Might We. Rumus yang digunakan untuk menginisiasi sebuah project. HMW ini harus spesifik tapi tak terlalu sempit dan prioritasnya jelas. Pilihannya cuma Help (Bantu), Enabler (Membuat) atau Support (Mendukung) dan objeknya harus manusia bukan institusi.


Brainstorming. Saya pribadi paling antusias dalam tahapan ini. Karena disini kita diasah untuk menjadi pendengar yang baik. 


Saling bertukar ide dan diskusi dalam memecahkan sebuah malam. Percaya deh, tahapan ini biasanya buat kita jadi tidak habis pikir akan sesuatu karena kita banyak mendengar kisah yang sangat mendekati masalah yang dituju apalagi jika itu isu sosial. 

Nah untuk IDEO sendiri memiliki aturan tersendiri dalam tahap ini; 7 Rules of Brainstorming. Adapun rules nya yaitu:

Pertama, Hilangkan meyalahkan ide orang lain.
Kedua, Keluarkan ide-ide gila.
Ketiga, Bangun pemikiran orang-orang untuk berkembang.
Keempat, Selalu fokus pada topik pembicaraan.
Kelima, Tetap bervisualisasi.
Keenam, Satu pembicara dalam satu waktu.
Terakhir, Tidak usah pikir kualitas tapi pikir kuantitas. Keluarkan semua ide.

Jujur saja rules ini sangat ampuh digunakan, nyaman banget ketika semua teman diskusi menerapkan rules ini.

Pick Idea. Tahap ini hanya memiliki dua syarat yaitu idenya memiliki kemungkinan yang besar jika diterapkan dan memiliki risiko yang kecil. Lalu barulah kita memilih dua atau tiga ide yang sesuai dengan syarat dan kesepakatan bersama. 

Setelah itu, masuklah ketahap design project yang berpatokan dengan ide yang kita dapatkan pada tahap brainstorming tadi. 

Design Project

Dalam mendesain project yang akan kita untuk mengintervensi roots of problemnya tadi. Kita harus berpatok dengan pertanyaan-pertanyaan berikut;

Siapa yang dilibatkan? Apa yang dibutuhkan? Tahapan pelaksanaan kegiatannya seperti apa? Risiko yang akan muncul? Jika ada intervensi yang dilakukan, perubahan apa yang harusnya terjadi? dan Apa rencana pasca project?

Rencana pasca program pun harus diketahui, soalnya impact dari design thinking tidak hanya mengenai penyelesain masalah secara output tapi outcome pun sangat dibutuhkan. Karena hal ini dapat kita tahu apakah project ini impactfull atau tidak. 

#3 Implement

Tahap terakhir dalam metode ini, kita hanya memvisualisasikan hasil diskusi mengenai ide kita kedalam sebuah Story Board. Story Board nya tergantung kita sendiri tetapi saya biasanya memetakan dalam empat tahap sehingga terpetakan langkah masif untuk mengintervensi masalah yang ada.

Setelah dibuatkan story board, langkah selanjutnya adalah prototype dan testing & iterasi. Design thinking menyadari bahwa prototype perlu diulang berkali-kali sebelum hasilnya sesuai (benar). Testing dan iterasi perlu dilakukan, bahkan setelah sebuah project dilaunching. Agar sebuah project dapat terus dipantau dan mencari solusi untuk memperbaikinya jika ada kekurangan. Biasanya ketika testing dan iterasi, saya mencobanya kepada teman-teman di komunitas jadi ada pandangan lain yang dirasakan oleh teman sendiri sebelum kita terapkan sesuai dengan target kita.

***
Merancang project memang tidak mudah. Banyak tahapan yang harus kita lakukan salah satunya dengan mengandalkan metode Design Thinking. Yakin dan percaya impactnya sangat bagus ketika kita terus mencobanya.

Untuk Design Thinking sendiri tidak hanya dipakai untuk merancang sebuah project seperti program. Memulai bisnis pun sangat cocok memakai ini. 

Saya sendiri ingin memperdalam lagi, cuman susah sekali dapat yang pelatihan cuma-cuma. Sekarang, untuk ikut pelatihan ini dibanderol sampai jutaan. Karena memang pelatihannya tidak cocok sejam dua jam, kalau perlu harus nginap agar lebih mateng ketika memakai sendiri.

Bagaimana teman muda? Tertarik memakai metode ini? Semoga bermanfaat ya tulisan saya walaupun gak seberapa :)

Salam Damai

15 Comments

  1. Saya juga suka banget kalo ada sesi brainstorming dalam diskusi. Jadinya banyak ide yang muncul, masalah pun gampang terselesaikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak ery. Memang saya orangnya suka cerita dan diskusi. Jadi kalo ketemu sesi brainstorming uh pasti seru deh.

      Hapus
  2. Mantap ya apalagi komunitas Peace Gene. Aku juga sepakat komunitas itu sarana yang benar2 cocok untuk pengembangan diri kita kala muda, seperti yang dikatakan mba Najeela Shihab. Karena mengandalkan organisasi dalam kampus saja, kirang cukup.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nais kak! Saya lebih suka berkegiatan di luar ketimbang di kampus. Karena di luar itu banyak yg bisa kita dapatkan. Akan tetapi saya tetap berkegiatan juga di kampus.

      Hapus
  3. Bagian ini toh:

    Tidak usah pikir kualitas tapi pikir kuantitas. Keluarkan semua ide.

    Mirip proses menulis. Kalo menulis kan tulis saja dulu apa yg mau ditulis, belakangan baru diedit/dipilah.


    Hm, design thinking, saya suka idenya krn human centered. Manusiawi sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha saya juga begitu kak. Saya suka nulis saja dulu, nanti dibelakang diliat jelek bagusnya. Lagian tidak ada karya yg jelek, toh yg jelek itu hanya yg tdk dibuat.

      Hapus
  4. Kayaknya menarik sih ini design thinking
    cuma terus terang saya belum terlalu paham dari penjelasan di atas. mungkin harus ikut langsung prosesnya baru bisa mengerti hehehe

    yang jelas saya selalu tertarik dengan segala macam proses diskusi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul daeng, saya juga ketika awal dijelaskan nda ngerti. Akan tetapi setelah saya ikut workshopnya langsung paham dan jelas sekali.

      Untuk materinya saya dulu dapat sejam ji, tapi workshopnya sampai malam hahaha

      Hapus
  5. Design think. Metode yang keren nih, karena mengajak kita untuk berpikir kreatif dan out of the box. Thanks sharingnya kak cuma mungkin lebih bagus lagi kalau bisa ikut workshopnya langsung ya supaya lebih paham lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah betul kak. Harus ikut workshopnya memang. Karena kalo teori saja gak cukup. Teori 30%, Praktek 70%

      Hapus
  6. Ternyata masuk di 1000 guru sulsel juga yahh, kereeen. Sy suka konsepnya yg traveling n teaching itu.

    Bgmn caranya ikut2 iti yg bgituan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dekat-dekat ini ada TnT Hardiknas kak. Yuks ikutan,sisa dftar saja hehe

      Hapus
  7. keren yah ini design thinking, apalagi dia berbasis manusia sebagai pengguna akhir. kapan-kapan mau dong diajarin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. siap, bisa sekali oppa. Kita belajar sama-sama :)

      Hapus
  8. Hmmmm... sejujurnya pas baca saya masih kurang paham. Mungkin lebih bagus kalau langsung dipraktekkan di?

    BalasHapus