Tenang di Rumah Menggunakan Rumus E+R=O

Ketika semua tempat keramaian menjadi sangat sepi. Beberapa kantor telah memutuskan bekerja dari rumah. Sekolah dan Kampus masa liburnya diperpanjang. Apalagi bulan Ramadan, masjid malah jadi sepi. Tarwih diadakan untuk sementara dan suara sahur-sahur di subuh hari tidak lagi terdengar.

Sistem perekonomian menurun. Pendapatan untuk para pekerja harian jadi menurun. Media semakin besar menyuarakan aturan yang dibuat pemerintah sampai dengan berita penyebaran virus yang semakin hari kurvanya meningkat. 

Wajar saja jika semua orang panik dibuatnya. Informasi yang tersebar di berbagai media massa hampir semua bernarasi negatif dan membuat orang cemas.

Sampai saat ini, virus Corona masih menjadi polemik di seluruh dunia. Termasuk juga di Indonesia. Sudah sebulan lebih pemerintah menganjurkan masyarakat untuk tetap di rumah saja. Sebut saja Sulawesi Selatan, sudah masuk dalam status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang bertujuan untuk memutus rantai penyebaran virus Corona. 

Sudah tepat sebulan saya self-quarantine, setelah saya datang dari ibu kota menuju kampung halaman. Merespon semua kejadian tersebut, saya memilih untuk tinggal di rumah saja, tenang di rumah.  

Mengelola Stres

Dalam menanggapi masa pandemi ini, saya mulai melakukan hal-hal yang menurut saya bisa membantu sedikit tidak menghiraukan kejadian ini. Kenapa? karena saya merasa ketika terlalu banyak mengonsumsi berita terkait wabah ini, akan semakin membuat saya cemas dan takut.

Nah akhir-akhir ini, saya mencoba menggunakan rumus E+R=O dalam mengelola stres. Penasaran? jangan buru-buru pindah laman. Berikut saya akan bedah rumusnya satu persatu.



Event atau peristiwa yang terjadi. Virus corona merupakan stimulus sebuah peristiwa yang terjadi bukan karena keinginan manusia. Saya tidak mengetahui dan tidak bisa memprediksi bahwa akan muncul sebuah virus bernama corona seperti yang terjadi sekarang. Sehingga saya tidak bisa menolaknya.

Hal yang saya yakini adalah bahwa virus ini sudah merupakan ketetapan Allah. Segala sesuatu yang muncul dan terjadi adalah atas kehendak-Nya. Sebagai hamba, saya hanya bisa menerima dengan awareness.



Respon atau cara saya menyikapi peristiwa tersebut. Stimulus pada dasarnya di luar kontrol karena selalu datang dari luar diri saya. Sama halnya virus corona. Virus ini merebak dengan cepat ke penjuru dunia hingga ke pelosok Sulawesi Selatan dan itu semua terjadi di luar kendali tentunya.

Hal yang bisa saya kendalikan hanyalah respon terhadap virus tersebut. Respon sepenuhnya berada dalam kontrol diri sendiri karena saya yang harus menentukannya sendiri.

Konsep Ember

Terkait wabah ini, kita sebagai manusia harus lebih mind ful. Menurut Oxford, Mindfulnes adalah keadaan sadar atau wawas pada suatu hal. 

Konsep Ember

Saya selalu mengibaratkan mental kita seperti ember. Ketika kita ada masalah, ember itu akan terisi air secara terus menerus dan mengakibatkan airya tumpah. Nah gimana caranya agar air itu tidak tumpah? 

Pertama, memperbesar ember. Biarkan air masuk (masalah) tapi mental kita diperbesar.
Kedua, mengurangi air yang ada pada ember agar embernya tidak tumpah.

Dalam rumus ini, saya selalu membuat kuadran untuk bisa memetakan hal-hal yang menyangkut ketika saya stres. 
 
Kuadran Mengelola Stres


Dimulai dari kanan atas, hal yang bikin stres tapi bisa diubah itu harus dicari solusinya. Misalnya ketika keadaan mengharuskan saya keluar rumah, saya harus memakai masker agar dapat menjaga diri saya dari paparan droplet.

Kemudian, kiri atas. Hal yang bikin stres dan tidak bisa diubah, kuncinya kita harus berdamai. Misalnya virus corona, kita tidak bisa menghalangi virus menyebar karena itu bukan kuasa kita, sifatnya Natural.

Lalu bagaimana dengan kuadran bawah?  Sejatinya kita tidak usah memikirkannya. Kebanyakan dari kita memikirkan hal yang nyatanya tidak bikin stres tapi tetap saja dipikirkan. Nah ini yang malah membuat ember kita penuh dan airnya tumpah.

Bayangkan saja jika setiap kuadran bernilai 25%, artinya setiap kejadian memiliki peluang yang sama. Namun, apabila kuadran bawah yang isinya 50% diabaikan ditambah 25% dikuadran kiri atas kita tidak pikirkan, berarti 75% air tidak akan memenuhi ember kita. Betapa leganya hidup kita, ketika kita bisa memilah hal-hal yang harus kita pikirkan.


Outcome (hasil) dari respon saya terhadap stimulus atau peristiwa yang terjadi. Saya juga mengartikan outcome sebagai nasib. Oleh karena itu, untuk memperbaiki nasib, yah dengan cara saya memperbaiki respon (R) terhadap segala peristiwa yang terjadi kepada diri saya.

Tuhan telah memberi saya akal dan budi untuk merespon atau melakukan sesuatu untuk memperbaiki nasib. Oleh karena itu, saya mencoba pikirkan dalam-dalam, pertimbangkan matang-matang dalam merespon wabah ini agar tidak menimbulkan stres.

Sebelum terbitnya maklumat pemerintah untuk tidak keluar rumah, saya merespon wabah ini dengan pulang ke kampung halaman dan berdiam diri di rumah. Saya banyak belajar dari negara-negara yang sudah duluan terkena wabah ini, seperti italia dan china.

Banyak manfaat yang kita dapatkan dengan berdiam diri di rumah, salah satunya lebih dekat dengan keluarga, lebih banyak mengenal diri kita dan tentunya kita lebih aware terhadap apa yang datang pada diri kita baik positif ataupun negatif.

Selain itu, saya juga merespon wabah ini dengan non aktifkan beberapa media sosial yang saya pakai. Membatasi berita yang sering muncul di beranda media sosial termasuk hal yang bisa kita ubah. Hal ini semata-mata saya lakukan untuk menjaga sistem imunitas tubuh selain dengan berikhtiar.

Saya baru sadar bahwa dalam ketetapan Tuhan itu, kita diberikan free will untuk memilih dan menentukan nasib kita. Memang ketetapan Tuhan sudah ada, tetapi itu tidak serta merta membuat kita pasrah dengan segala yang terjadi.

Seperti yang saya jelaskan di awal bahwa kita harus merespon wabah ini dengan menggunakan rumus [E+R=O]. Setiap peristiwa yang terjadi harus direspon dengan sebaik mungkin. Karena saya menyadari bahwa saya hanya bisa melakukan yang terbaik now and here.

***
Teman muda, itulah tadi penjabaran rumus-rumus ataupun tools yang saya gunakan dalam merespon wabah ini. Inilah cara terbaik yang saya lakukan selain melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk #LawanCorona agar saya tidak panik dan cemas.

"Kepanikan itu adalah setengah dari penyakit dan ketenangan adalah setengah dari obat." - Ibnu Sina.

***
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Ayo Lawan Covid -19” yang diselenggarakan oleh Kejar Mimpi Lhokseumawe. 





1 Comments

  1. Percayalah, setelah pandemi ini berakhir, kita memasuki era yg tidak terbayangkan, dan hanya orang-orang extraordinary yang bertahan.

    Bismillahirrahmanirrahim.
    Semoga Allah SWT memberikan kita petunjuk dan tetap berserah diri pada kuasanya. Aamiin YRA.

    BalasHapus