Menyelisik Terorisme dari Kacamata Anak Muda


“Astaghfirullah, teror lagi teror lagi. Dahlah capek banget sih ini udah 2020 coy!” teriak temanku.

“Lah udahlah ya. Aksi teror mah gitu gitu aja. Dipikiran mereka tuh ideologi yang salah dan pengen bikin kita takut aja.” kata ku.

 

Apa yang muncul di benakmu jika mendengar kata “Terorisme”?

Takut? emosi? atau malah mencekamnya?

Apakah kamu masih ingat kondisi penyerangan dan pembunuhan sadis oleh kelompok MIT di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah november lalu?

 

***


Konflik yang dikhawatirkan benar benar terjadi di Poso pada tahun 1998. Poso yang awalnya damai dan dapat dikatakan sebagai miniatur Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika ini, kemudian berubah menjadi tempat pertikaian dan terjadinya konflik sosial berdarah melibatkan unsur etnis dan agama di dalamnya. Konflik di Poso yang melibatkan konflik antara agama Islam dan Kristen ini, mengakibatkan kerusuhan massal hingga jatuhnya banyak korban meninggal, korban luka, dan tempat peribadatan dan rumah yang dibakar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab pada tahun 1998-2001.

 

Konflik ini pun telah membuat para perempuan, laki-laki dewasa, orang tua, remaja, anak-anak, lanjut usia, segala usia dari segala lapisan dan latar belakang, tanpa terkecuali, terseret, dipaksa masuk dalam tepian dan pusaran konflik kekerasaan berdarah yang berkepanjangan (Gogali, 2009: 21)

 

Fenomena kekerasan ekstremisme yang terjadi di Kabupaten Poso pada tahun 1998 kembali menguat di November 2020 lalu. Pasalnya MIT (Mujahidin Indonesia Timur) di bawah kendali Ali Kalora kembali melakukan aksi pembunuhan terhadap 4 warga di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Padahal pemerintah kita sudah melakukan banyaknya cara untuk menghentikan kasus ini melalui banyaknya tim ekspedisi yang diturunkan. Namun kenapa aksi terorisme ini masih terus terjadi dan masih banyaknya anggota MIT yang sulit dicari? Para aktivis dan tokoh di Sulawesi Tengah mengatakan bahwa para teroris mampu bermanuver dengan cepat dan dapat berbaur dengan masyarakat setempat.

 

Aksi teror dan bom bunuh diri mengatasnamakan paham keagamaan mengejutkan masyarakat Indonesia. Tindak kekerasan ekstrem ini banyak melibatkan anak muda maupun anak di bawah umur mulai dari peristiwa pengeboman di Kota Surabaya menjelang Ramadhan hingga rentetan aksi teror yang dilakukan kelompok MIT ini. Fenomena ini tentu saja mencederai nilai-nilai Pancasila yang dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia.

 

Keterlibatan anak muda dalam pusaran aksi kekerasan tidak terlepas dari perkembangan pemahaman keagamaan yang keras. Survey yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah di 34 Provinsi di Indonesia tahun 2017 menemukan bahwa sebanyak 37,71%  siswa dan mahasiswa setuju bahwa jihad itu qital atau perang, terutama perang melawan non muslim serta 23,35% juga setuju bahwa teror bom bunuh diri adalah bagian dari jihad Islam.

 

Pasalnya kelompok militan menggunakan cara-cara tertentu yang dilakukan dalam mengoperasikan aksi terornya, seperti Narasi Historis dan Narasi Teologis yang mereka publikasikan dalam platform media sosial ataupun ceramah yang mengandung unsur radikalisme.

 

Kekuatan Narasi 

 

Narasi merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa. Oleh karena itu, unsur yang paling penting dalam sebuah narasi adalah unsur perbuatan dan tindakan. Keraf (2001:136) 

Jika melihat dari definisi diatas memang tampak jelas bahwa narasi mampu membuat seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu. Saya yakin bahwa kita semua setuju sebuah narasi sangat berperan penting dalam sebuah rentetan kisah.  Secara teks dan visual bisa kita lihat bagaimana narasi ini disampaikan dalam situs-situs radikal yang menyebarkan berbagai propaganda radikal yang mengajak masyarakat terutama anak muda untuk bergabung dalam menjalankan ajaran agama yang telah disalah tafsirkan ke arah radikal.

Kekuatan narasi bisa terlihat jelas di Indonesia, propaganda untuk membentuk militansi dari masyarakat terlihat jelas dimana-mana. Sebagai contoh bagaimana Abu Muhammad al-Indonesia alias Bahrumsyah mengajak orang Indonesia untuk bergabung dengan ISIS melalui video “Join the Ranks from The Islamic State” di situs youtube.

Jika kita menyelisik aksi teror yang dilakukan oleh kelompok MIT, mereka menggunakan narasi historis, mengaitkan seolah-olah sejarah konflik poso 1998 belum selesai dan pernyataan politik dari Santoso pada tahun 2012 dalam memproklamasikan kelompok MIT di Sulawesi Tengah. Kemudian narasi teologis, mereka menggunakan unsur-unsur keagamaan (jihad membela agama) dalam mendukung tindakan kekerasan ekstremisme ini untuk memperkuat kelompok dan merekrut banyak lagi orang yang terjebak dalam pemahaman mereka. Pertanyaannya sekarang, apakah hanya persoalan narasi yang membuat seseorang ikut tergabung dalam kelompok kekerasan? 

 

Terjadinya Aksi Teror

 

Cara pandang yang salah dalam memandang identitas ini akan menimbulkan bibit kekerasan. Perbedaan identitas yang sangat sederhana seperti kulit juga dapat menimbulkan kekerasan, seperti kulit putih dan hitam, bagaimana kelompok KKK (Ku Klux Klan) sangat mengagungkan ras kulit putih yang mana membenci warga kulit hitam di Amerika. Hal ini juga berlaku pada aksi teror. Apapun kelompoknya, terorisme tergerak karena sikap berlebihan dalam memandang identitas.

 

Dalam modul Menebar Damai dan Mencegah Benih Kekerasan karya Peace Generation Indonesia (2018), dijelaskan ada tiga hal yang membuat seseorang bergabung dan melakukan aksi teror, yakni:


  1. Push Factor, kondisi ini berpegang pada lingkungan, kondisi ekonomi, masalah keluarga, ketidakadilan, keyakinan, dan hal lain yang sifatnya mendorong.

  2. Pull Factor, kondisi dimana individu diberikan iming-iming yang menarik seperti imbalan materi, prestise (kewibawaan) dan janji surga.

  3. Personal Factor, kondisi dimana individu merasa kesepian, galau, faktor psikologi pribadi serta bertanya-tanya akan suatu hal. Faktor inilah yang paling banyak ditemukan pada anak muda karena kecenderungan generasi milenial yang begitu dinamis membuat hal ini dapat terjadi. 

 

Namun kita harus paham dan ingat bahwa agama bukan faktor utama munculnya kekerasan ekstrimisme. Pada buku A World Without Islam, karya Graham E. Fuller dijelaskan tidak sama sekali terorisme muncul karena agama. Akan tetapi terorisme muncul dari ketimpangan, kemiskinan, dan kecenderungan fanatisme atas identitas yang dimiliki.

 

Selain itu, tujuan utama aksi terorisme adalah menciptakan teror (ketakutan) kepada masyarakat dan pemerintah dan mengeksploitasi media untuk mengabarkan kondisi mereka. Media dijadikan alat propaganda agar mencapai tujuan politis tertentu yakni negara Khilafah yang tidak berlandaskan pancasila (thogut). 

 

Besarnya informasi yang kita dapatkan di media sosial secara tidak terbatas, dapat membuat kita akan sulit memilah apabila tidak mampu mengolahnya. Anak muda perlu melakukan refleksi diri untuk memilah informasi yang tidak hanya sebatas benar saja, namun baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.



“Hati-hati dalam menarasikan sebuah kejadian, jangan sampai kamu justru melahirkan kekerasan baru” - Lian Gogali, Direktur Institute Mosintuwu.



***Esai ini diikutkan dalam Aksi Keberlanjutan AkadeMI 2020 by Milenial Islami dan Indika Foundation



 

4 Comments

  1. Wah.. Insightful. Kalo udah tau faktor2nya semoga kita semua bisa memformulasikan aksi preventifnya

    BalasHapus
  2. Salah satu aksi intoleran yang melahirkan terorisme dan ketakutan lainnya
    . kurangnya literasi dalam hal ini minat baca orang Indonesia sangat kurang sehingga apa yang ia baca ia tidak kaji bahkan tidak mengkritisi suatu narasi yang bisa saja membuat kita terprovokasi dan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Sebenarnya kita butuh kaca mata X untuk menelisik lebih jauh tentang sebuah isu agar dapat mengetahui kejadian apa yang menyebabkan aksi teror di Sigi sehingga dapat ditemukan solusi yang tepat tanpa bernarasi negatif, menakuti bahkan menimbulkan masalah baru. Emosional netizen maupun pembaca informasi tentu akan menyebabkan konfli misalnya benci bahkan dendam.media juga sebagai pendamai bukan malah sebaliknya.


    Kurangnya wawasan soal apa yang dituangkan dalam Alkitab masing-masing agama sehingga mereka mengambil sebuah kesimpulan singkat bahkan bias. Misalnya ayat atau hadits mengenai jihad yang sesungguhnya, dimana Tuhan mengajarkan kita untuk bertahan jika kita mendapatkan perlakuan yang intoleran dari pihak lain. Makanya butuh ekstra keras memahami kitab suci baik secara konseptual dan kontekstual lalu dibarengi dengan nalar manusia. Melihat dua persepsi.

    Padahal 12 nilai perdamaian mengajarkan kita untuk menerima, memaafkan, menghargai, berkolaborasi agar dapat terwujudnya perdamaian tanpa ada rasa paling dominan

    BalasHapus
  3. Indonesia pada 1602 - 1816 dikala itu para pejuang kita mempertaruhkan nyama demi Indonesia. Justru dari berbagai elemen masyarakat, agama, suku, profesi, turut berperan aktif dalam memerdekakan bangsa ini dari penjajah. Cuma kita tidak pernah membaca sejarah perjuangan mereka dulu. Orang dulu tak pernah Membahas hal yang sensitif kek agama dan rasis tapi mereka fokus bagaimana IPTEK dapat terwujud yang dapat meningkatkan peradaban manusia.

    BalasHapus
  4. Salah satu faktor utama memang adalah kondisi ekonomi
    Orang dengan kondisi ekonomi yang sulit jadi sasaran utama untuk dijadikan salah satu alat terorisme. Mereka yang sering tertekan dan merasa kalah dalam kehidupan diberi semacam harapan yang dibalut dengan unsur agama atau kepercayaan. Akhirnya, ya gitu deh

    BalasHapus