Hijrah Dalam Mewujudkan "Langit Biru"



Indonesia memang belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan energi fosil. Tapi bukan berarti kita berdiam diri saja. Banyak cara untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Salah satunya beralih ke BBM ramah lingkungan.

***

Pada Februari lalu, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menyatakan penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama pandemi Covid-19 berdampak positif bagi kualitas udara. Hal ini disebabkan berkurangnya mobilitas masyarakat karena pembatasan aktivitas, fasilitas umum, serta transportasi sehingga angka pencemaran udara menjadi berkurang.

Disisi lain, kita juga perlu menciptakan kondisi daerah yang senantiasa bebas polusi udara bukan hanya di DKI Jakarta saja, namun juga di provinsi lainnya. Bahkan data dari KLHK menyebutkan bahwa faktor penyebab peningkatan polusi udara disebabkan oleh emisi gas kendaraan yakni sebesar 80%. Lihat saja bagaimana kemacetan yang terjadi di kota-kota besar. Agak riweh bukan?

Saya kebetulan lulusan teknik dan waktu semester akhir dulu, saya membantu kawan yang sementara melakukan penelitian mengenai tingkat penggunaan kendaraan di Makassar. Dalam sehari, data yang didapat bisa sampai (±) 2000 kendaraan bermotor dan (±) 1000  kendaraan roda empat yang melalui jalanan provinsi. Jika dianalisis lebih dalam, menurut saya kemacetan yang terjadi bukan kurangnya infrastruktur yang ada melainkan volume kendaraan yang semakin bertambah. Bagaimana tidak? Hanya untuk membeli sabun mandi saja di warung depan gang kompleks, kita masih menggunakan kendaraan roda dua padahal jaraknya tidak begitu jauh.

Namun sejak pandemi Covid-19, kondisi emisi gas rumah kaca bisa dikatakan mengalami penurunan. Faktanya, pemerintah melalui pembatasan sosial yang dilakukan memiliki dampak penurunan polusi udara sebesar 42% saja. 

Selain kelayakan infrastruktur untuk menunjang bertambahnya volume kendaraan yang berdampak pada emisi gas rumah kaca, peluncuran jenis BBM ramah lingkungan juga harus dilayakkan. Demi udara bersih dan bebas polusi, jenis BBM ramah lingkungan berstandar EURO ini menjadi suatu keharusan untuk diterapkan.

Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI, salah satu pembicara dalam diskusi publik dan webinar bertemakan “Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru” yang diadakan oleh KBR (Kantor Berita Radio) dan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), 18 maret lalu mengungkapkan BBM berstandar EURO ini sudah digaungkan sejak 25 tahun silam.



Kementerian Lingkungan Hidup sudah menyatakan sasaran utama untuk mewujudkan BBM (Bahan Bakar Minyak) berstandar EURO, ternyata dinilai belum bisa masif. Padahal pemerintah sudah menerbitkan regulasi melalui Peraturan Menteri (PERMEN) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 20/Setjen/Kum.1/2017 mengenai Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O. PERMEN ini mengatur pemberlakuan peraturan standar emisi EURO 4 kendaraan bermotor tipe baru. 


Dalam mewujudkan BBM ramah lingkungan ini, maka perlu mencapai standar emisi untuk kendaraan berstandar EURO 2 yang digunakan sebagai bahan bakar digital. Tetapi, sampai detik ini program tersebut belum mencapai 20% hingga 40%, sehingga masih minim penggunaannya sampai sekarang. Dalam perjalanannya, “Pemerintah masih kurang konsisten dan bahkan Presiden Jokowi menghadiri Paris Protocol on Climate Change 2015 di Paris untuk menandatangani komitmen itu dan sudah disahkan di undang-undang untuk mengurangi emisi gas karbon sampai 40% untuk tahun 2030”, tambah Tulus Abadi.

Hampir lupa. Mungkin kawan-kawan semua bertanya, program langit biru itu seperti apa? Nah ini saya jelaskan sedikit banyaknya.


TENTANG PROGRAM LANGIT BIRU

Program Langit Biru (PLB) adalah program yang diluncurkan sebagai bentuk tindakan dalam mengurangi pencemaran polusi udara yang dapat dilakukan dengan mengendalikan penggunaan emisi gas buang pada kendaraan. Nah, salah satu cara yang saat ini masih diupayakan adalah, penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak) yang ramah lingkungan guys!

Sejalan dengan program ini, YLKI dan KBR terus melakukan edukasi kepada masyarakat berupa diskusi publik dan webinar hingga menyentuh bagian keempat.

Saat ini, Indonesia menjadi salah satu dari tujuh negara yang masih menggunakan Premium. Masyarakat masih banyak tidak peduli terhadap kualitas tapi murah tidaknya suatu barang. Hal ini juga dikatakan oleh Faisal Basri sebagai Pengamat Ekonomi mengenai hukum permintaan yang mana semakin murah suatu barang, maka akan semakin banyak konsumen yang mengonsumsinya, “Ditengah pandemi ini, kita perlu bertransformasi di segala bidang kehidupan antara lain transformasi BBM dari yang tidak ramah lingkungan menjadi ramah lingkungan. Namun sudah sangat terlewat juga momen dimana premium harus dihapuskan. Karena ketika beralih pun, industri otomotif juga menimbulkan polemik”, ungkapnya.


MENGUAK FAKTA ‘JAHAT’ PREMIUM

Sejalan dengan program ini, YLKI dan KBR terus melakukan edukasi kepada masyarakat berupa diskusi publik dan webinar hingga menyentuh bagian keempat.



Dalam diskusi publik ini, saya juga baru tahu kenapa Premium sangatlah tidak baik untuk digunakan. Memang harganya yang murah tapi sebenarnya bikin kita jadi rugi besar. Disela-sela diskusi, Tulus Abadi mengungkapkan bahwa ada beberapa alasan mengapa dikatakan ‘bukan untung, tapi buntung’, yakni

Pertama, Premium ini memiliki nilai oktan (RON) yang rendah ketimbang jenis BBM lainnya. Jika dibandingkan, Premium hanya memiliki nilai oktan sebesar 88 saja, Pertalite 90, Pertamax 92, Pertamax Turbo 98. Apabila tidak mengisi sesuai nilai RON kendaraan bisa-bisa kendaraan akan menjadi tidak awet untuk kesehatan mesin. Hal ini akan mengakibatkan perbaikan mesin secara terus-menerus yang ujung-ujungnya mengeluarkan biaya perbaikan lagi. Apalagi zaman semakin maju, jenis kendaraan baru mulai bermunculan yang tidak cocok dengan tipe premium ini.

Kedua, Premium memiliki jarak tempuh yang cukup pendek ketimbang BBM yang lainnya karena memang kualitas produk yang dimiliki sangatlah rendah. 

Oiya, jika dipikir-pikir juga, Premium termasuk energi fosil. Selain merusak lingkungan, energi konvensional juga dapat menurunkan kualitas kesehatan. Kendaraan bermotor menyebabkan kita sesak napas. Itulah mengapa, kita lebih senang menghirup segarnya udara pegunungan ketimbang menyesap sesaknya hawa perkotaan :D

Lagi pula, energi fosil bukanlah sumber daya abadi. Suatu saat nanti, jika dieksploitasi terus-menerus, akan habis dari muka bumi. 

Saya pun kemudian mulai berpikir, jika memang premium ini malah merugikan dan PLB sudah 25 tahun dicetuskan tapi tidak signifikan perubahannya, lalu kenapa masih diteruskan?

Pak Faisal Basri menjawab, “karena Pemerintah tidak konsisten dalam tidak menghadirkan lagi Premium di masyarakat dan terlalu lama dalam mengambil keputusan”. Padahal PLB tampak akan berhasil naik ke level selanjutnya andai saja kebijakan pemerintah untuk menghadirkan kembali Premium tak dilakukan. 



Kekuatan inilah yang menjadikan program percepatan Langit Biru tidaklah berjalan dan masif secara signifikan. Maka dari itu, solusi alternatif yang perlu didorong dan dikembangkan harus dibarengi gotong royong. Kekuatan inilah yang bisa kita pakai untuk membentengi langit Indonesia dengan Langit Biru. 

Nah, berikut empat pilar solusi yang bisa kita lakukan dalam percepatan program langit biru di masyarakat. Sabar. Tarik napas dalam-dalam. Jangan lupa untuk memakai hati yang lapang, karena saya juga ternyata telah ‘dibodohi’ selama ini. Jika sudah, ayo kita ulas satu persatu.


‘K3S’ GUNA SUKSESNYA PROGRAM LANGIT BIRU

Konsistensi dan Komitmen.

Pemerintah dalam hal ini wajib terus berbenah mengenai hal ini. Pertamina pun sebagai produsen makin diperbuat sulit dengan hal ini. Dilain sisi, masyarakat juga harus memiliki jiwa konsisten dan komitmen. Karena tadi sudah saya jelaskan bagaimana ‘jahatnya’ premium ini tentu perlulah kita terus berkomitmen dan konsisten tidak memakai jenis BBM ini.

Kolaborasi.

Seperti kata Bung Karno, “Berilah aku 10 pemuda, maka aku guncangkan dunia!”

Kata-kata ini bukanlah sekadar omongan belaka. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri untuk memperkuat program Langit Biru ini di masyarakat. Mereka butuh masyarakat juga untuk paham dan bekerjasama untuk memaksimalkannya. Semua lini di masyarakat sangatlah punya tanggung jawab besar untuk itu. Seperti yang dilakukan YLKI dan KBR melalui diskusi publik dan webinar ini dengan memanfaatkan influencer seperti Ramon Tungka, Adhi Bassi Toayya sebagai Content Creator, Thamzil tahir sebagai Redaktur, Leoni Agustina sebagai MC dan Presenter, hingga Komika seperti Yewen Papua juga sangat dibutuhkan apalagi blogger xixixi :D

Sosialiasi.

Hal terpenting adalah sosialisasi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya malah baru tahu tentang fenomena ini dan Program Langit Biru. Saya mengira BBM yang baik untuk masyarakat adalah yang paling murah. Namun ternyata saya salah. 

***

Solusi dari saya:

Jika pemerintah masih sangat sulit dengan komitmen ini, setidaknya ada energi terbarukan yang bisa menjadi alternatif untuk menghentingkan penggunaan BBM yang tidak ramah lingkungan seperti Biodiesel.

Pemanfaatan biodiesel sebagai sumber energi bersih dan ramah lingkungan sebenarnya sudah dilakukan sejak 12 tahun silam. Kala itu, kadar biodiesel baru mencapai 2,5 persen. Artinya, setiap 100 liter biodiesel terdiri atas campuran 2,5 liter bahan bakar nabati atau energi terbarukan dan 97,5 liter bahan bakar solar. Seiring perkembangan teknologi, kandungan bahan bakar nabati terus ditingkatkan.

Yang jelas, peran kita sebagai warga negara yang baik adalah mendukung program yang telah dicanangkan pemerintah ini. Secara bertahap, gantilah bahan bakar mesin dan kendaraan kita dengan biodiesel. Apalagi sudah diuji kelayakannya. Selain ramah lingkungan, kita juga berperan serta dalam membantu bangsa menekan defisit neraca perdagangan dan mengurangi impor BBM. Keren, kan?

***

Memang akan terasa sulit, apalagi dengan kondisi keuangan yang tidak menentu di tengah pandemi ini. Tapi tinggal bagaimana kita yang hidup pada zaman sekarang menentukan langkah ke depan. Sudahkan kita berperan serta dalam mendukung program Langit Biru untuk udara yang bersih dan sejuk? Ingat, apa yang kita kerjakan saat ini pasti punya dampak bagi generasi mendatang. Jadi, ayo gunakan jenis BBM yang ramah lingkungan! Yok hijrah yok~



***

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blogger dalam Rangka “Mendorong Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru” yang diadakan oleh KBR (Kantor Berita radio) dan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia).

Daftar Referensi

Youtube Berita KBR https://www.youtube.com/watch?v=M9a-aOGNrB0

Kuo, Gioietta. 2019. When Fossil Fuels Run Out, What Then? [daring, https://mahb.stanford.edu/library-item/fossil-fuels-run/, diakses pada 20 Maret 2021].

 

 

 


1 Comments

  1. Semoga program langit Biru ini bisa berjalan dengan baik ya, aamiin aamiin

    BalasHapus